Selasa, 07 Oktober 2014

Tugas6

Pertanyaan
1.    Faktor-faktor apa  saja yang menyebabkan kemunduran Islam/Umat Islam/Pemerintah Islam
2.    Bagaimana cara umat Islam bangkit kembali
Jawab
1.   
·    Luasnya wilayah kekuasaan masa itu, sementara lambatnya proses komunikasi. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya dikalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah.
·    Melemahnya Baghdad sebagai pusat kekuasaan sehingga menyebabkan masing-masing provinsi dibawah kekuasaan Baghdad memisahkan/memerdekakan diri. Dan wilayah kekkuasaan saat itu menyempit hanya di Baghdad dan sekitarnya, yang menunjukkan melemahnya bidang politik.
·    Lemahnya khalifah yang menggantikan khalifa sebelumnya. Sehingga mengakibatkan mudahnya Islam dihancurkan karena terus-menerus ditekan dari luar dan rapuhnya pondasi yang ada di dalam.
·    Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit . sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik.
·    Kemajuan besar yang dicapai menyebabkan para pengusaha hidup mewah (berfoya-foya) yang kemudian ditiru oleh anak-anak pejabat sehingga menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin.
·    Beberapa peperangan yang menelan banyak korban seperti Perang Salib dan serangan bangsa Mongol ke wilayah kekuasaan Islam.
·    Hilangnya prinsip dan tidak memiliki paradigma dalam hidup serta konsep hidup yang tidak jelas.
·    Terjadinya perpecahan di kalangan umat.
·    Rendahnya peran masyarakat terhadap agama.

2.
·    Memperdayagunakan Sumber Daya Alam (SDA) dan tentunya diawali dengan memperbaiki kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
·    Mempelajari kembali sejarah perjuangan umat Islam sehingga dapat meraih kejayaan kembali.
·    Menegakkan pemerintahan yang didasarkan pada pemikiran untuk memunculkan pemecahan-pemecahan praktis untuk menanggulangi segala persoalan kehidupan.
Terbukanya pemikiran umat dalam menghadapi problem yang muncul sehingga dapat memunculkan inovasi-inovasi yang akan membawa pada kebangkitan.

Tugas5

Pertanyaan
Mengapa (faktor-faktor apa saja yang menyebabkan peradaban Islam maju)? Dari segi Politik/Pemerintahan, Ekonomi (Perdagangan), Pendidikan, Militer, Sumber Daya Manusia, Agama.
Jawab
·    Ilmu Pengetahuan
Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan peradaban Islam secara menyeluruh, tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendukung. Diantaranya adalah kebijakan politik pemerintahan Bani Abbasiyah terhadap masyarakat non Arab (Mawali), yang memiliki tradisi intelektual dan budaya riset yang sudah lama melingkupi kehidupan mereka. Mereka diberikan fasilitas berupa materi atau finansial dan tempat untuk terus melakukan berbagai kajian Ilmu Pengetahuan melalui bahan-bahan rujukan yang perna ditulis atau dikaji oleh masyarakat sebelumnya.
Dengan dikuasaiya wilayah baru oleh Islam menyebabkan keinginan untuk belajar bahasa Arab sebgai pengantar di wilayah-wilayah tersebut. Orang-orang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab jika mereka ingin belajar lebih mendalam tentang ajarab Islam. Dan adanya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan ilmu pengetahuan. Serta berdirinya perpustakaan-perpustakaan dan menjadi pusat penterjemahan dan kajian Ilmu Pengetahuan.
·    Politik/Pemerintahan
Pada masa Umayyah, bidang Politik telah mengalami kemajuan dan perubahan, sehingga lebih teratur dibandingkan dengan masa sebelumnya, terutama dalam hal khilafah (kepemimpinan). Dibentuknya Al-Kitabah (Sekretariat Negara), Al-Hijabah (Ajudan), Organisasi Keuangan, Kehakiman dan Tata Usaha Negara.
Pada masa selanjutnya, yaitu kekuasaan Bani Abbasiyah mendapat pengaruh dari Persia. Pendekatan terhadap kaum Malawi dilakukan antara lain dengan mengadopsi sistem Administrasi dari tradisi setempat (Persia) mengambil beberapa pegawai dan Menteri dari bangsa Persia dan meletakkan ibu kota kerajaannya di Baghdad di wilayah yang di kelilingi oleh bangsa dan agama yang berlainan seperti bangsa Aria dan Sumit dan agama Islam, Kristen, dan Majusi. Pada masa pemerintahan Al Mansur (Abbasiyah), beliau melakukan konsolidasi dan penertiban dalam pemerintahannya serta berusaha menaklukkan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintahan pusat dan memantapkan keamanan di daerah perbatasan.

·    Militer
Kekuata militer pada masa bani Abbasiyah jauh lebih berkembang dari masa sebelumnya. Sebab diberlakukannya Undang-Undang wajib Militer (Nizhamut Tajnidil Ijbary). Sedangkan pada masa sebelumnya, yakni masa khulafaurrasyidin, tentara merupakan pasukan sukarela. Politik ketentaraan Bani Umayyah adalah politik Arab, dimana tentara haru dari orang Arab sendiri atau dari unsur Arab.
Adapun Janisary ialah pasukan elit khilafah Usmani yang konon ditakuti dunia. Pasukan infanteri ini dibentuk oleh Sultan Murad 1 dari kekhalifahan bani Seljuk. Pasukan Janisary berasla dari bangsa Eropa Timur yang wilayahnya berhasil dikuasai oleh Turki Usmani. Selanjutnya perekrutan pasukan ini ialah budak yang masih bocah, sehingga mereka bisa diajari (didoktrin) untuk membela dan mengawal Sultan.
·    Sumber Daya Manusia
Metode-metode berpikir yang digunakan para filosof Yunani telah memberikan motivasi bagi ilmuwan muslim untuk lebih banyak berkarya dalam kemajuan pendidikan Islam sehingga muncul nama-nama seperti Jabir Ibn Hayan, Al-Kindi, Al-Razi, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Ibnu Ummar Khayyan, Ibnu Rusyd dan lain-lain.

Rabu, 01 Oktober 2014

KALIMAT DAN KALIMAT EFEKTIF DALAM PENULISAN

A. Pengertian Kalimat dan Kalimat Efektif
Dalam proses penulisan karya ilmiah ada dua jenis kalimat yang mendapat perhatian penulis, yaitu masalah kalimat dan masalah kalimat efektif. Pernyataan sebuah kalimat bukanlah sebatas rangkaian kata dalam frasa dan klausa. Rangkaian kata dalam kalimat itu ditata dalam struktur gramatikal yang benar unsur-unsurnya dalam membentuk makna yang akan disampaikan secara logis. Kalimat-kalimat dalam penulisan ilmiah harus lebih cermat lagi menata kalimat yang benar dan efektif karena kalimat-kalimat yang tertata itu berada dalam laras bahasa ilmiah.
Kalimat dalam tataran sintaksis adalah satuan bahasa yang menyampaikan sebuah gagasan bersifat predikatif dan berakhir dengan tanda titik sebagai pembatas. Sifat predikatif dalam kalimat berstruktur yang dibentuk oleh unsur  subjek,  unsur predikat, dan unsur objek (S-P+O).
Unsur subjek dan predikat itu harus mewujudkan makna gramatikal kalimat yang logis. Konsepsi kalimat itu belum cukup untuk menampilkan kalimat efektif, sehingga diperlukan factor lain dalam perwujudan kalimat menjadi kalimat efektif. Oleh karena itu, KALIMAT EFEKTIF adalah satuan bahasa (kalimat) yang secara tepat harus mewakili gagasan atau perasaan penulis dan harus pula dimengerti oleh pembaca sebagaimana yang dimaksudkan penulis. Jadi, kalimat efektif merupakan kalimat yang harus tepat sasaran dalam penyampaian dan bagi pembacanya.
Disamping kaidah yang ada dalam kalimat, kalimat efektif perlu memperhatikan persyaratasn dan menghindari hal-hal yang menyalahi kalimat efektif.

B. PERSYARATAN KALIMAT EFEKTIF
1. FUNGSI GRAMATIKAL DALAM KALIMAT EFEKTIF ATAU KESATUAN
FUNGSI GRAMATIKAL
Fungsi gramatikal atau unsure struktur dalamkalimat dikenal dengan istilah subjek, predikat, objek,, pelengkap,, dan keterangan yang dirumuskan atau disngkat menjadi S + P + (O/Pel.) + (Ket) /
S : adalah subjek
P : adalah predikat
O : adalah objek
Pel.: adalah pelengkap
Ket. : adalah keterangan.
Fungsi subjek dan fungsi predikat harus ada dan jelas dalam kalimat dan secara fakultatif diperlukan fungsi objek, fungsi pelengkap, dan fungsi keterangan.
SUBJEK adalah fungsi kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis. Posisi subjek dalam kalimat bebas, yaitu terdapat pada awal, tengah, atau akhir kalimat.
PREDIKAT adalah fungsi kalimat yang menandai apa yang dinyatakan oleh penulis tentang subjek. Posisi predikat dalam kalimat juga bebas, kecuali tidak boleh di belakang objek dan di belakang pelengkap.
OBJEK adalah fungsikalimat yang melengkapi kata kerja aktif dan kata kerja pasif sebagai hasil perbuatan, yang dikenai perbuatan, yang menerima, atau yang diuntungkan oleh perbuatan sebagai predikat. Fungsi objek selalu terletak di belakang predikat berkata kerja transitif.
PELENGKAP adalah fungsi yang melengkapi fungsi kata kerja berawalan ber- dalam predikat, sehingga predikat kalimat menjadi lebih lengkap. Posisi pelengkap dalam kalimat terletak di belakang predikat berawalan ber-.
KETERANGAN adalah fungsi kalimat yang melengkapi fungsi-fungsi kalimat, yaitu melengkapi fungsi subjek, fungsi predikat, dan fungsi objek, atau fungsi semua unsur dalamkalimat. Posisi keterangan dalam kalimat bebas dan tidak terbatas. Tidak terbatas dimaksudkan fungsiketerangan dalam dapat lebih dari satu pada posisi bebas yang sesuai dengan kepentingan fungsi-fungsi kalimat.
Perhatikanlah posisi fungsi-fungsi kalimat berikut.
(1) Setelah bekerja selama tiga hari, panitia pelaksana seminar lingkungan hidup itu berhasil merumuskan undang-undang kebersihan tata kota Jakarta di Kantor DPD DKI Jakarta. (P-Pel-S-P-O-K)
(2) Keputusan hakim perlu ditinjau kembali.( S – P)
(3) Perlu ditinjau kembali keputusan hakim. (P – S)
(4) Kelompok Pialang (broker) berbicara tentang fluktuasi harga sama IHSG. (S – P – Pel.)
(5) Selama tahun 2012 fluktuasi harga saham IHSG mengalami kenaikan yang signifikan sebanyak 12 kali di Bursa Efek Jakarta (K – S – P – O-K)
(6) Pengacara tersebut mempelajari undang-undangpencemaran nama baik dan membandingkannya dengan Undang-undang Dasar RI. (S1 – P1 –O1 – P2 – K)
 (7) Evaluasi pembelajaran mahasiswa meliputi empat komponen, yaitu komponen UTS,komponen UAS, komponen kehadiran, dan komponen makalah ilmiah. (S1 – P1 – O1 – K1 – K2- K3 – K4)
(8) Jika stabilitas nasional mantap, masyarakat dapat bekerja dengan tenang dan dapat beribadah dengan leluasa. (S3- P3 – S1 – P1 – S2 –P2)
Perhatikanlah contoh kalimat majemuk dalam posisi fungsi yang berbeda berikut.
(9) Bahwa kemerdekaan itu hak semua bangsa sudahdiketahui semua orang.
( S1 (konjungsi + S2 + P2) - P1 - O1.)
(10) Dosen mengatakan bahwa komponen nilai UAS berbobot 40%. (S1 - P1 - O1 (S2+P2)).
(11) Hasil UAS mahasiswa dibatalkan jika mahasiswaketahuan mencontek. (S1 – P1 – K1 (S2+P2)).
(12) Kelompok C berpresentasi dan tim juri menilainya. (S1 – P1 + S2 – P2)
(13) Kinerja bisnis mulai membaik dan perkembangan ekonomi menjadi stabil setelah pemilu berlangsung damai. (S1 - P1 + S2 – P2 + (S3 + P3)
2. KEPADUAN (KOHERENSI) DALAM KALIMAT
Kepaduan atau keherensi dalam kalimat efektif adalah hubungan timbal balik atau hubungan kedua arah di antara kata atau frasa dengan jelas, benar, dan logis. Hubungan timbal baik terjad dapat antarkata dalam frasa satu unsur atau dapat terjadi antar frasa dalam antarfungsi dalam kalimat. Hubungan antar fungsi itu dapat menimbulkan kekacauan makna gramatikal kalimat. Perhatikanlah contoh kalimat yang berprasyarat koherensi berikut.
Contoh kalimat yang TIDAK KOHERENSIF
(1) Setiap hari dia pulang pergi Bogor –Jakarta dengan kereta api.
(2) Oleh panitia seminar makalah itu dimasukkan ke dalam antologi.
(3) Pelaksanaan seminar itu karena jalan macet harus ditunda satu jam kemudian.
Pembetulan kalimat yang KOHERENSIF
(1a) Setiap hari dia pergi pulang Bogor—Jakarta dengan kereta api
 (2b) Makalah seminar itu dimasukkan ke dalam antologi.
(3a). Karena jalan macet,pelaksanaan seminar itu ditunda satu jam kemudian.

3 KEHEMATAN KALIMAT ATAU EKONOMI BAHASA
KEHEMATAN atau ekonomi bahasa adalah penulisan kalimat yang langsung menyampaikan gagasan atau pesan kalimat secara jelas, lugas, dan logis.
Kalimat yang hemat dalam penulisan menghindari dan memperhatikan hal-hal berikut .
(1) Penulis menggunakan kata bermakna leksikal yang jelas dan lugas dan penempatan afiksasi yang benar.
(2) Penulis menghindari subjek yang sama dalam kalimat majemuk.
(3) Penulis menghindari pemakaian hiponimi dan sinonimi yang tidak perlu.
(4) Penulis menghindari penggunaan kata depan (preposisi) di depan kalimat dan di depan subjek.
(5) Penulis menghindari penggunaan kata penghubung (konjungsi) di depan subjek dan di belakang predikat yang berkata kerja transitif.
(6) Penulis menghindari kata ulang jika sudah ada kata bilangan tak tentu di depan kata benda.
(7) Penulis menghindari fungsi tanda baca dan pengulangan kata dalam rincian.
(8) Penulis menghindariketerangan yang berbelit-belit dan panjang yang seharusnya ditempatkan dalam catatan kaki (footnotes).
(9) Penulis menghindari pemborosan kata dan afiksasi yang tidak jelas fungsinya.
Perhatikanlah contoh berikut, yaitu kalimat kurang memperhatikan ekonomi bahasa.
(a) Dalam ruangan ini kita dapat menemukan barang-barang, antara lain seperti meja, kursi, buku, lampu, dan lain-lain.
(b) Karena modal di bank terbatas, sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit.
(c) Apabila pada hari itu saya berhalangan hadir, maka rapat akan dipimpin oleh Sdr. Tadjudin.
Perbaikan kalimat yang memperhatikan ekonomi bahasa berikut.
(a1) Dalam ruangan ini kita dapat menemukan meja, kursi, buku, lampu, dan lain-lain.
(b1) Karena modal di bank terbatas, tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit.
(b2) Modal di bank terbatas, sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit.
(c1) Pada hari itu saya berhalangan hadir, maka rapat akan dipimpin oleh Sdr. Tadjudin.
(c2) Apabila pada hariitu saya berhalangan hadir, rapat akan dipimpin oleh Sdr. Tadjudin.

4. PENEKANAN DALAM KALIMAT EFEKTIF
Dalam kalimat efektif PENEKANAN ATAU PENONJOLAN adalah upaya penulis untuk memfokuskan kata atau frasa dalam kalimat. Penekanan dalam kalimat dapat berupa kata,frasa,klausa, dalam kalimat yang dapat berpindah-pindah.
Namun, penekanan tidak sama dengan penentuan gagasan utama dan ekonomi bahasa. Penekanan dapat dilakukan dalam kalimat lisan dan kalimat tulis. Pada kalimat lisan, penekanan dilakukan dengan intonasi yang dapat disertai mimik muka dan bentuk nonverbal lainnya. Penekanan dalam kalimat tulis dapat dilakukan dengan cara-cara berikut.
(1) Mutasi, yaitu mengubah posisi kalimat dengan menempatkan bagian yang dipenting pada awal kalimat.
Contoh:
Minggu depan akan diadakan seminar”Pencerahan Pancasila bagi Mahasiswa”
(2) Repetisi, yaitu mengulang kata yang sama dalam kalimat yang bukan berupa sinonim kata.
Contoh:
Kalau pimpinan sudah mengatakan tidak tetap tidak.
(3) Kursif, yaitu menulis miring, menghitamkan, atau menggarisbawahi kata yang dipentingkan.
Contoh:
Bab II skripsi ini tidak membicarakan fluktuasi harga saham.
(4) Pertentangan, yaitu menempatkan kata yang bertentangan dalam kalimat.
Pertentangan bukan berarti antonim kata.
Contoh:
Dia sebetulnya pintar tetapi malas kuliah.
(5) Partikel, yaitu menempatkan paretikel (lah,kah, pun, per, tah) sebelum atau sesudah kata yang dipentingkan dalam kalimat.
Contoh:
Dalam berdemokrasi, apa pun harus transparan kepada rakyat.
(6) Penekanan dalamkalimat tidak berarti penonjolan gagasan kalimat atau bukan ekonomi bahasa.

5. KESEJAJARAN DALAM KALIMAT (PARALELISME)
KESEJAJARAN (PARALELISME) adalah upaya penulis merinci unsur yang sama penting dan sama fungsi secra kronologis danlogis dalam kalimat.
Dalam kalimat dan paragraph, raincian itu harus menggunakan bentuk bahasa yang sama, yaitu rincian sesame kata, sesame prasa,sesama kalimat.
Kesamaan bentuk dalam paralelisme menjaga pemahaman yang fokus bagi pembaca dan sekaligus menunjukkan kekonsistenan sebuah kalimat dalam penulisan karya ilmiah.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam kesejajaran rincian kalimat efektif adalah sebagai berikut.
(1) Tentukanlah apakah kesejajaran berada bentuk bahasa kalimat atau paragraf.
(2) Jika urutan rincian dalam bentuk frasa, rincian uruan berikut harus dalam bentuk frasa juga.
(3) Penomoran dalam rincian harus konsisten.
(4) Perhatikanlah penempatan tanda baca yang benar.
 (5) Hindarilah gejala ekonomi bahasa yang bermakna sama:
seperti……dan lain lain, antara lain…..
Sebagai berikut, yakni:….
Perhatikanlah contoh kesejajaran yang benar berikut.
Kami sangat mengharapkan kehadiran Bapak/Ibu/Saudara pada:
hari :…,
tanggal:….,
waktu: ….,
acara: …., dan
Tempat: …..

6. KEVARIASIAN DALAM KALIMAT EFEKTIF
KEVARIASIAN dalam kalimat efektif adalah upaya penulis menggunakan berbagai pola kalimat dan jenis kalimat untuk menghindari kejenuhan atau kemalasan pembaca terhadapteks karangan ilmiah. Fungsi utama kevariasian ini adalah menjaga perhatian dan minat baca terhadap teks ilmiah berlanjut bagi pembaca. Pada dasarnya kevariasian adalah upaya penganekaragaman pola, bentuk, dan jenis kalimat agar pembaca tetap termotivasi membaca dan memahami teks sebuah karangan ilmiah. Agar kevariasi dapat menjaga motivasi pembaca terhadap teks, penulis perlu memperhatikan hal-hal berikut.
(1) Awal kalimat tidak selalu dimulai dengan unsur subjek, tetapi kalimat dapat dimulai dengan predikat dan keterangan sebagai variasi dalam penataan pola kalimat.
(2) Kalimat yang panjang dapat diselingi dengan kalimat yang pendek.
(3) Kalimat berita dapat divariasikan dengan kalimat Tanya, kalimat perintah, dan kalimat seruan.
(4) Kalimat aktif dapat divareiasikan dengan kalimat pasif.
(5) Kalimat tunggal dapat divariasikan dengankalimat majemuk.
(6) Kalimat taklangsung dapat divariasikan dengan kalimat langsung.
(7) Kalimat yang diuraikan dengan kata-kata dapat divariasikan dengan tampilan gambar,bagan,grafik, kurva, marik, dan lain-lain.
 (8) Apa pun bentuk kevariasian yang dilakukan oleh penulisjangan sampai mengubah atau keluar dari pokok masalah yang dibicarakan.
Perhatikanlah contoh kalimat dengan variasinya.
(a) Dari renungan itu seorang manajer menemukan suatu makna, suatu realitas yang baru, suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai bisnisnya ke depan.
(b) Seorang ahli Inggris mengemukakan bahwa seharusnya tidak dibangun pelabuhan samudera. Namun, pemerintah tidak memutuskan demikian.
Memang cukup banyak mengendorkan semangat kalau melihat keadaan di Indonesia belahan Timur meskipun fasilitas pengangkutan laut dan udara sudah banyak dibangun. (Variasi kalimat dengan kata berawalan me- dan berawalan di-).

7. PENALARAN DALAM KALIMAT EFEKTIF
PENALARAN (reasoning) adalah proses mental dalam mengembangkan pikiran logis (nalar) dari beberapa fakta atau prinsip (KBBI,2005:772). Hal yang diutamakan dalam penalaran adalah proses berpikr logis dan bukan dengan perasaan atau bukan pengalaman. Penalaran tidak akan tercapai jika tidak didukung oleh kesatuan dan kepaduan kalimat. Dalam penalaran alur berpikirlah ang ditonjolkan agar kalimat dapat dipertanggungjawabkan dan
dapat dipahami dengan benar dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman atau salah kaprah. Kesatuan pikiran akan logis jika didukung atau dikaitkan dari gabungan unsur atau fungsi kalimat.
Hubungan logis dalam kalimat dapat dilihat melalui kaitan antarunsur dan kaitan antarbagian kalimat. Hubungan logis dalam kalimat terdiri atas tiga jenis hubungan berikut.
(1) Hubungan logis koordinatif adalah hubungan setara di antara bagian-bagian kalimat dalam kalimat majemuk setara. Hubungan logis koordinatif ini ditandai dengan konjungsi dan, serta, tetapi, atau, melainkan, sedangkan, padahal.
Contoh: Mobil itu kecil tetapi pajaknya sangat besar.
(2) Hubungan logis korelatif adalah hubungan saling kait di antara bagian kalimat. Hubungan korelatif ini ditandai oleh konjungsi berikut.
Hubungan penambahan : baik….maupun, tidak hanya..., tetapi
juga……..
Hubungan perlawanan : tidak….., tetapi….., bukan……., melainkan
Hubungan pemilihan : apakah…., atau….., entah….entah……
Hubungan akibat : demikian…..sehingga, sedemikian
rupa……sehingga
Hubungan penegasan : jangankan…..,…..pun…..
(3) Hubungan logis subordinatif adalah hubungan kebergantungan di antara induk kalimat dan anak kalimat.
Contoh: Dosen itu tidak masuk karena rumahnya kebanjiran.
Hubungan subordinatif dalam kalimat majemuk tak setara (bertingkat) cukup banyak hubungan antara induk kalimat dan anak kalimat yang ditandai dengan konjungsi-konjungsi berikut.
(a) Hubungan waktu : ketika,setelah, sebelum,
(b) Hubungan syarat : jika,, kalau, jikalau,
(c) Hubungan pengandaian : seandainya andaikan,andai kata,
(d) Hubungan tujuan : untuk, agar,supaya,
(e) Hubungan perlawanan : meskipun,walaupun, kendatipun,
(f) Hubungan pembandiungan : seolah-olah, seperti, daripada, alih-alih,
(g) Hubungan sebab : sebab,karena, oleh sebab,lantaran,
(h) Hubunganhasil/akibat : sehingga, maka, sampai (sampai)
(i) Hubungan alat : dengan, tanpa
(j) Hubungan cara : dengan, tanpa,
(k) Hubungan pelengkap : bahwa, untuk, apakah,
(l) Hubungan keterangan : yang,
(m) Hubungan perbandingan : sama….dengan, lebih….daripada,
berbeda…..dari Contoh kalimat yang salah karena tidak logis (salah nalar)
(1) Di antara masalah nasional yang penting itu mencantumkan masalah MPKT dalam pendidikan (SALAH).
Di antara masalah pendidikan nasional itu tercantum masalah MPKT dalam pendidikan (BENAR)
(2) Untuk mengetahui baik buruk pribadi seseorang dapat dilihat dari tingkah lakunya sehari-hari. (SALAH)
Baik buruk pribadi seseorang dapat dilihat dari pribadinya sehari-hari. (BENAR)
(3) PT Gudang Garam termasuk lima penghasil terbesar devisa negara tahun 2010. (SALAH)
PT Gudang Garam termasuk lima besar penghasil devisa negara tahun 2010. (BENAR).
(4) Meskipun dia datang terlambat, namun dia dapat menyelesaikan masalah itu. (SALAH)
Meskipun datangterlambat, dia dapat menyelesaikan masalah itu. (BENAR)
Dia datang terlamat, namun dapat menyelesaikan masalah itu. (BENAR)
(5) Dia membantah bahwa bukan dia yang korupsi tetapi staf keungan perusahaan. (SALAH)
Dia menyatakan bahwa bukan dia yang korupsi melainkan staf keuangan perusahaan. (BENAR).

Selasa, 30 September 2014

Tugas4

Pertanyaan
Jelaskan konsep-konsep berikut berserta aplikasinya dimasa Rasulullah SAW.
Al Musawah, al Ta’awun, al ’adalah, al ikha, al tasamuh, al tasyawur.
Jawab
·    Al-Ikha(Persaudaraan)
Awalnya Rasulullah SAW membangun ikatan persaudaraan antara orang-orang muslim Makkah. Hal ini terjadi sebelum hijrah dan diadakan atas dasar kesetiaan terhadap kebenaran dan saling tolong-menolong. Contohnya saja Rasulullah menetapkan ikatan persaudaraan antara Abu Bakar dan Umar, Thalhah dan Zubari, dan antara Abdurrahman bin Auf dan Usman. Pemersatuan umat antara Muhajirin (Makkah) dan Anshar (Madinah) menjadi contoh yang berikutnya di zaman Rasulullah. Dan tentunya inilah yang menjadi kebangkitan Islam melalui persaudaraan tanpa memandang suku atau jabatan
·    Al-Tasamuh(Toleransi)
Prinsip toleransi yang diajarkan Islam adalah membiarkan umat lain untuk beribadah dan berhari raya tanpa mengusik mereka. Hal yang lain ialah tetap menjalin hubungan kerabat pada orang tua dan saudara non muslim serta diperbolehkan memberi hadiah pada non muslim.
·    Al-’Adalah(Keadilan)
Keadilan Rasulullah SAW dalam memimpin telah dicatat sebagai untaian butiran mutiara sejarah. Rasulullah SAW tidak pandang bulu dalam menerapkan hukum dan menegakkan keadilan. Ketika seorang wanita kaya dan keturanan bangsawan mencuri dengan tegas diputuskan, wanita itu dihukum potong tangan. Bahkan ketika keluarga kerabat wanita itu meminta tolong Usamah bin Zaid, seorang diantara sahabat yang paling dicintai Rasulullah SAW. untuk memohon keringanan hukuman, beliau pun marah. Bahkan beliau sendiri pun pernah meminta Qishas  dari para sahabatnya yang selama beliau memimpin pernah disakiti.

·    Al-Ta’awun(Tolong-menolong)
Tolong-menolong dalam hal ini ialah tolong-menolong dalam kebaikan bukan tolong menolong dalam keburukan. Sebagaimana diisyaratkan dalam surah al-Maidah ayat 2 berikut:
 
2. dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.
Konsep ini bisa diartikan bertemunya individu dengan jenis kemampuan dan keahlian berbeda untuk saling bekerja sama membantu mencapai tujuan yang ingin di wujudkaan. Hal ini juga pernah dicontohkan Rasulullah SAW mana kala beliau hendak pergi ke pasar untuk membeli pakaian dengan membawa uang seharga 8 dirham akan tetapi uang tersebut ia relakan untuk menolong orang lain yang kesusahan.
·    Al-Tasyawur(Musyawarah)
Dalam tafsir Almaraghi disebutkan bahwa orang yang berhak untuk mengikuti musyawarah adalah orang yang berlaku adil dan mempunyai ilmu. Mampu menguasai materi dan memiliki peran serta dalam musyawarah tersebut. Contoh musyawarah yang dilakukan Rasulullah ialah saat terjadinya perang khandaq. Sebuah musyawarah terjadi antara Rasulullah dengan para sahabat. Seorang pemuda bernama Salman al-Farisi memberikan usulan untuk membuat parit. Maka usulan tersebut disetujui dan memerintahkan untuk menggali parit di sekeliling Madinah dan Rasulullah sendiri ikut bersama menggalinya untuk meningkatkan semangat kaum muslimin.
·    Al-Musawah
Islam menganggap semua manusia sama, tidak ada perbedaan satu sama lain dengan sebab ras, warna kulit, atau bahasa. Mereka termasuk keluarga dan dating dari keturunan yang satu. Contoh paling jelas ialah ketika Rasul diberi budak bernama Zaid oleh istri beliau (Khadijah). Beliau memperlakukan Zaid seperti anaknya sendiri. Jadi jelaslah bahwa tidak adanya perbedaan diantara kaum muslimin melainkan tingkat ketakwaan yang dimiliki masing-masing dari pada mereka.

Sabtu, 27 September 2014

PENULISAN EJAAN DAN TANDA BACA

I. Konsepsi Ejaan
EJAAN adalah keseluruhan pelambangan bunyi bahasa, penggabungan
dan pemisahan kata, penempatan tanda baca dalam tataran satuan
bahasa.Pengertian senada dengan KBBI (2005:205), Ejaan adalah kaidahkaidah
cara menggambarkan bunyi-bunyi dalammbnetuk hurufserta
penggunaan tanda baca dalam tataran wacana. Berdasrkan konsepsiejaan
tersebut, cakupan bahasan ejaan membicarakan
(1) Pemakian huruf vokal dan konsonan,
(2) Penggunaan huruf kapital dan kursif,
(3) Penulisan kosakata dan bentukan kata,
(4) Penulisan unsur serapan afiksasi dan kosakata asing, dan
(5) Penempatan dan pemakaian tanda baca.
Ke-5 aspek ejaan tersebut ditata dalamkaidah ejaan yang disebut Ejaan yang
Disempurnakan sejak1972.
II. Kaidah Penempatan Ejaan dalam Penulisan
Dalam buku Pedoman Ejaan yang Disempurnakan penulisan ejaan dan
tanda baca diatur dalamkaidahnya masing-masing. Penulisan ejaan yang
diatur tersebut di antaranya
(1) Pemakaian abjad,huruf vocal, huruf konsonan, dan abjad.
(2) Persukuan, yaitu pemisahan suku kata,
(3) Penulisan huruf besar,
(4) Penulisan huruf miring,
(5) Penulisan kata dasar, kata ulang, kata berimbuhan,, gabungan kata,
 (6) Penulisan angka dan lambang bilangan,
(7) Penempatan tanda baca atau pungtuasi, di antaranya
(a) Tandatitik (.),
(b) Tanda koma (,),
(c) Tanda titik dua (:),
(d) Tanda titik koma (;)
(e) Tanda titiktitik/ellipsis(….),
(f) Tanda Tanya (?),
(g) Tanda seru (!),
(h) Tanda kurung biasa ((….)),
(i) Tanda hubung (-),
(j) Tanda pisah (--),
(k) Tanda petik tunggal (‘…’),
(l) Tanda petik ganda (“…”),
(m) Tanda kurung siku ([…]),
(n) Tanda ulang angka dua (…..2),
(p) Tanda apostrof (‘….)
Tanda baca di atas diaplikasikan dalam teks sesuai dengan kaidah yang
berlaku secara resmi. Kaidah ejaan itu akan dilampirkan dari buku Pedoman
EYD.
Ketiga ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia itu diresmikan di Jakarta
melalui pemerintahan kolonial Belanda dan pemerintahan Republik Indonesia.
C. Penempatan Ejaan dan Tanda Baca
Dalam buku Pedoman Ejaan yang Disempurnakan (disingkat Pedoman
EYD) penulisan ejaan dan tanda baca diatur dalam kaidahnya sebagai
berikut.
(1) Pemakaian abjad berupa huruf vokal, huruf konsonan,
(2) Persukuan, yaitu pemisahan suku kata,
(3) Penulisan huruf besar (kapital)
(4) Penulisan huruf miring atau digarisbawahi (kursif),
(5) Penulisan kata dasar,kata ulang, kata berimbuhan, dan gabungan kata,
 (6) Penulisan angka dan lambang bilangan, dan
(7) Penempatan tanda baca (pungtuasi), di antaranya
(a) Tanda titik (.),
(b) Tanda koma (,),
(c) Tanda titik koma (;),
(d) Tandatitik dua (:),
(e) Tanda titik-titik/ellipsis (…),
(f) Tanda Tanya (?),
(g) Tanda seru (!),
(h) Tanda kurung biasa ((…)),
(i) Tanda kurung siku ([…]),
(j) Tanda hubung (-),
(k) Tanda pisah (--),
(l) Tanda petik tunggal (‘…’),
(m)Tanda petik ganda (“…”),
(n) Tanda garis miring (/),
(o) Tanda ulang angka dua (2), dan
(p) Tanda apostrof/penyingkat (‘).
Ke-16 penempatan tanda baca tersebut dideskrisikan sebagai berikut dari buku PedomanEYD (Pusat Bahasa, 2009, cetakan ke-30: hlm. 15—39).

RAGAM DAN LARAS BAHASA

1. PENDAHULUAN
Ketika bahasa itu berada pada tataran fungsi bahasa ekspresi diri dan fungsi
bahasa komunikasi, bahasa yang digunakan masuk ke dalam ragam bahasa
dan laras bahasa. Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terbentuk
karena pemakaian bahasa. Pemakaian bahasa itu dibedakan berdasarkan
media yang digunakan topik pembicaraan, dan sikap pembicaranya. Di pihak
lain, laras bahasa dimaksudnya kesesuaian antara bahasa dan fungsi
pemakaiannya. Fungsi pemakaian bahasa lebih diutamakan dalam laras
bahasa dari pada aspek lain dalam ragam bahasa. Selain itu, konsepsi antara
ragam bahasa dan laras bahasa saling terkait dalam perwujudan aspek
komunikasi bahasa. Laras bahasa apa pun akan memanfaatkan ragam
bahasanya. Misalnya, laras bahasa lisan dan ragam bahasa tulis.
2. RAGAM BAHASA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ragam bahasa diartikan variasi
bahasa menurut pemakaiannya, topic yang dibicarakan hubungan pembicara
dan teman bicara, dan medium pembicaraannya. (2005:920). Pengertian
ragam bahasa ini dalam berkomunikasi perlu memperhatikan aspek (1) situasi
yang dihadapi, (2) permasalahan yang hendak disampaikan, (3) latar
belakang pendengar atau pembaca yang dituju, dan (4) medium atau sarana
bahasa yang digunakan. Keempat aspek dalam ragam bahasa tersebut lebih
mengutamakan aspek situasi yang dihadapi dan aspek medium bahasa yang
digunakan dibandingkan kedua aspek yang lain.
2.1. Ragam Bahasa Berdasarkan Situasi Pemakaianannya
Berdasarkan situasi pemakaiannya, ragam bahasa terdiri atas tiga bagian,
yaitu ragam bahasa formal, ragam bahasa semiformal, dan ragam bahasa
nonformal. Setiap ragam bahasa dari sudut pandang yang lain dan berbagai
jenis laras bahasa diidentifikasikan ke dalam situasi pemakaiannya. Misalnya,
ragam bahsa lisan diidentifikasikan sebagai ragam bahasa formal, semiformal,
atau nonformal. Begitu juga laras bahasa manjemen diidentifikasikan sebagi
ragam bahasa formal, semiformal, atau nonformal. Ragam bahasa formal
memperhatikan kriteria berikut agar bahasanya menjadi resmi.
1. Kemantapan dinamis dalam pemakaian kaidah sehingga tidak kaku
tetapi tetap lebih luwes dan dimungkinkan ada perubahan kosa kata
dan istilah dengan benar.
2. Penggunaan fungsi-fungsi gramatikal secara konsisten dan eksplisit.
3. Penggunaan bentukan kata secara lengkap dan tidak disingkat.
4. Penggunaan imbuhan (afiksasi) secara eksplisit dan konsisten
5. Penggunaan ejaan yang baku pada ragam bahasa tulis dan lafal yang
baku pada ragam bahasa lisan.
Berdasarkan kriteria ragam bahasa formal di atas, pembedaan antara ragam
formal, ragam semiformal, dan ragam nonformal diamati dari hal berikut:
1. Pokok masalah yang sedang dibahas,
2. Hubungan antara pembicara dan pendengar,
3. Medium bahasa yang digunakan lisan atau tulis,
4. Area atau lingkungan pembicaraan terjadi, dan
5. Situasi ketika pembicaraan berlangsung.
Kelima pembedaan ragam baasa di atas, dipertegas lagi pembedaan antara
ragam bahasa formal dan ragam bahasa nonformal yang paling mencolok
adalah sebagai berikut:
1. Penggunaan kata sapaan dankata ganti,misalnya:
Saya dan gue/ogut
Anda dan lu/situ/ente
2. Penggunaan imbuhan (afiksasi), awalan (prefix), akhiran (sufiks),
gabungan awalan dan akhiran (simulfiks), dan imbuhan terpisah
(konfiks). Misalnya:
Awalan: menyapa – apaan
Mengopi – ngopi
Akhiran: laporan – laporin
Marahi – marahin
Simulfiks: menemukan------nemuin
Menyerahkan-----nyerahin
Konfiks: Kesalaha-----------nyalahin
Pembetulan-------betulin
(4) Penggunaan unsure fatik (persuasi) lebih sering muncul dalam ragam
bahasa nonformal, seperti sih, deh, dong,kok,lho, ya kale, gitu ya.
(5) Penghilangan unsure atau fungsi kalimat (S-P-O-Pel-Ket) dalam ragam
bahasa nonformal yang menganggu penyampaian suatu
pesan.Misalnya,
Penghilangan subjek: Kepada hadirin harap brdiri.
Penghilangan predkat: Laporan itu untuk pimpinan.
Penghilangan objek : RCTI melaporkan dariMedan.
Penghilangan pelengkap: Mereka berdiskusi dilantai II.
2.2. Ragam bahasa berdasarkan mediumnya
Berdasarkan mediumnya ragambahasa terdiriatas dua ragambahasa,yaitu
8
(1) ragam bahasa lisan
(2) ragam bahasa tulis.
Ragambahasa lisan adalah bahasa yang dilafalkan langsung oleh
penuturnya kepada pendengar atau teman bicaranya. Ragam bahasa lisan
ini ditentukan oleh intonasi dalam pemahaman maknanya. Misalnya,
(a)mKucing/ makan tikus mati.
(b) Kucing makan//tikus mati.
(c) Kucing makan tikus/mati.
Ragam bahasa tulis adalah ragambahasa yang ditulis atau dicetak dengan
memerhatikan penempatan tanda baca dan ejaan secara benar.
Ragambahasa tulis dapat bersifat formal,semiformal, dan nonformal. Dalam
penulisan makalah seminar dan skripsi,penulis harus menggunakan
ragambahasa formal sedangkan ragam bahasa semiformal digunakan
dalamperkuliahan dan ragam bahasa nonformal digunakan keseharian secara
informal. Berikut ini didesjripsikan perbedaan dan persamaan antara bahasa
lisan dan bahasa tulius dalam bentuk bagan
Penggunaan ragambahasa dan laras bahasa dalampenulisan
karangan ilmiah harus berupaya pada
(1) ragam bahasa formal,
(2) ragam bahasa tulis,
(3) ragam bahasa lisan ,
(4) laras bahasa ilmiah, dan
(5) berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.
3. LARAS BAHASA
Laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan fungsi pemakaiannya.
Laras bahasa terkait langsung sung dengan selingkung bidang (home style)
dan keilmuan, sehingga dikenallah laras bahasa ilmiah dengan bagian subsublarasnya.
Pembedaan diantara sub-sublaras bahasa seperti dalamlaras
ilmiah itu dapat diamati dari
(1) penggunaan kosakata dan bentukan kata,
(2) penyusunan frasa,klausa, dan kalimat,
(3) penggunaan istilah
(4)pembentukan paragraph,
(5) penampilan halteknis,
(6) penampilan kekhasan dalam wacana.
Berdasrkan konsepsi laras bahasa tersebut,laras bahasa ekonomi
mempunyai sub-sublaras bahasa manajemen, sublaras akuntansi,sublaras
asuransi, sublaras perpajakan, dll.

Selasa, 23 September 2014

Tugas3

Pertanyaan
Pelajaran apa saja yang dapat kita petik dari sejarah masa Khulafaurrasyidin?
Jawab
·    Ketakwaannya.
    Para Khulafaurrasyidin adalah sebagai sosok muslim yang paling takut kepada Allah SWT. Ketaqwannya kepada Allah SWT tidak dapat diragukan lagi. Mereka sebagai contoh kaum muslimin dalam menjalankan syariat Islam. Mereka adalah manusia yang paling dekat kepada Allah SWT paling rajin beribadah , dan orang yang paling takut berbuat maksiat kepada Allah swt serta orang yang paling lembut hatinya ketika dinasehati, tetapi paling keras dalam mempertahankan prinsip.
·    Kesederhanaannya.
Para Khulafaurrasyidin kehidupan sehari-harinya sebagaimana kebanyakan manusia kaum muslimin pada umumnya. Pakaian makanan , rumah dan gaya kehidupannya tidak berbeda dengan kaum muslimin pada umumnya. Sehingga waktu utusan raja Romawi ingin bertemu dengan khalifah Umar, ia sendiri sedang mengaduk semen. Rumah khalifah Umar binKhatab yang tidak berbeda dengan rumah penduduk pada umumnya.
·    Aspiratif (Suka menerima sumbangsaran dan masukan)
Suatu hari ketika Khalifah Umar sedang berceramah dihadapan umat dan memberi tausyiyahnya ,tiba-tiba seorang rakyat jelata mengatakan kepada Khalifah Umar: Aku akan meluruskan dengan pedang ini jika engkau menyimpang . Dengan senyum Khalifah Umar menjawab : Alhamdulillah,masih ada kaum muslimin yang bersedia meluruskan Umar. Umar juga pernah meminta pendapat dari seorang ibu tentang berapa lama sebaiknya ada pergiliran tugas bagi tentara muslim. Oleh ibu tersebut dijawab 4 bulan. Umar akhirnya mengambil keputusan dari masukan seorang ibu tersebut.
·    Menghormati hukum.
Khalifah Ali pernah kalah di pengadilan dalam perkara tuntutan atas hak pakaian perangnya yang hilang dan ditemukan oleh seorang Yahudi. Hakim menolak klaim khalifah Ali karena hanya mendatangkan saksi anaknya, Hasan. Karena keadilan tersebut orang Yahudi itu masuk Islam dan mengaku bahwa ia menemukan pakaian perang itu di tempat umum. Tetapi khalifahAli enggan menerimanya karena ia sudah kalah di pengadilan.
·    Menegakan hukum tanpa pandang bulu dan berprilaku  adil
Khalifah Umar pernah menghukum anak Amru bin Ash yang memukul orang Qibty (warga asli Mesir beragama Nasrani) karena kalah balapan pacuan kuda. Karena tidak terima dipukul anak Gubernur Mesir itu, ia melapor  ke Umar. Khalifah Umar memanggil Amru bin Ash, gubernur Mesir dan anaknya .Setelah dihadapannya Khalifah Umar mengatakan:Apakah kalian akan memperbudak mereka sedangkan mereka dilahirkan dalam keadaaan merdeka?
·    Mengutamakan kepentingan Umum
Umar bin Khatab mengatakan kepada para sahabatnya yang mengusulkan agar Abdullah bin Umar diangkat sebagai hakim: Demi Allah, Abdullah bin Umar tidak akan menjadi pejabat selama Umar masih hidup.